Embun Upas di Dieng Muncul, Suhu Tembus Minus 6
hiku.us – Embun upas di Dieng kembali mengubah kawasan dataran tinggi itu menjadi hamparan putih yang memikat. Kristal-kristal es menyelimuti rumput dan tanaman saat suhu permukaan dilaporkan turun hingga minus 6 derajat Celsius.
Pemandangan tersebut langsung menarik perhatian wisatawan. Namun, di balik keindahannya, embun beku membawa ancaman serius bagi tanaman kentang dan komoditas pertanian milik warga.
Fenomena ini muncul saat musim kemarau memasuki periode dingin. Langit yang cerah membuat panas dari permukaan tanah terlepas lebih cepat pada malam hari.
Akibatnya, suhu di dekat permukaan terus menurun hingga titik beku. Embun yang menempel pada rumput, daun, dan tanah kemudian berubah menjadi lapisan es tipis.
BMKG menjelaskan bahwa embun es dapat muncul di kawasan dataran tinggi ketika suhu udara sangat dingin dan embun yang telah terkondensasi membeku. Fenomena tersebut paling sering terjadi pada musim kemarau, terutama antara Juni hingga Oktober.
Embun Upas di Dieng Capai Minus 6 Derajat
Kemunculan embun beku terbaru terlihat di kawasan Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Suhu pada permukaan rumput saat itu mencapai minus 6 derajat Celsius.
Angka tersebut merujuk pada suhu permukaan objek, bukan selalu suhu udara yang tercatat pada ketinggian standar alat pengamatan. Karena itu, suhu udara di sekitar wisatawan dapat menunjukkan angka yang berbeda.
Meskipun demikian, lapisan es tetap bisa terbentuk saat suhu permukaan tanah dan tanaman turun hingga di bawah nol derajat. Kondisi itu biasanya terjadi menjelang matahari terbit.
BMKG juga memperkirakan fenomena embun upas berpeluang muncul lebih sering selama musim kemarau 2026. Oleh sebab itu, wisatawan dan petani perlu memantau informasi cuaca secara rutin.
Kristal es umumnya mulai terlihat sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 WIB. Setelah matahari naik, suhu permukaan perlahan meningkat dan lapisan putih tersebut mencair.
Karena durasinya singkat, wisatawan harus datang sejak dini hari. Mereka juga perlu memperhatikan kondisi cuaca pada malam sebelumnya.
Apa Itu Embun Upas?
Embun upas merupakan istilah masyarakat Dieng untuk menyebut embun yang membeku. Warga juga mengenalnya sebagai bun upas atau embun racun.
Nama “upas” muncul karena lapisan es dapat merusak tanaman. Daun yang terkena embun beku bisa layu, mengering, lalu mati setelah terkena sinar matahari.
Dengan demikian, embun upas bukan salju yang turun dari langit. Kristal es justru terbentuk langsung pada rumput, daun, atap, atau permukaan tanah.
Proses tersebut dalam meteorologi dikenal sebagai frost. Fenomena serupa dapat terjadi di daerah tropis yang berada pada ketinggian tertentu.
BMKG mencatat bahwa masyarakat Dieng menyebutnya embun racun karena fenomena tersebut dapat mematikan tanaman kentang. Selain itu, suhu dingin ekstrem, intrusi udara dingin, dan faktor ketinggian turut mendukung pembentukannya.
Embun Upas Bukan Salju
Banyak orang menyebut lapisan putih di Dieng sebagai salju. Namun, penyebutan itu kurang tepat jika dilihat dari proses terbentuknya.
Salju terbentuk di dalam awan. Kristal es kemudian jatuh menuju permukaan sebagai presipitasi.
Sebaliknya, embun upas terbentuk ketika uap air atau embun di dekat permukaan membeku. Oleh karena itu, lapisan es lebih banyak menempel pada daun, rumput, kaca, tanah, dan benda lain.
Perbedaan proses tersebut tidak mengurangi daya tariknya. Hamparan putih tetap menciptakan suasana yang jarang ditemukan di wilayah tropis Indonesia.
Penyebab Embun Upas di Dieng
Embun upas di Dieng muncul melalui gabungan beberapa kondisi. Ketinggian kawasan, musim kemarau, udara kering, dan langit cerah menjadi faktor utama.
Dieng berada di kawasan pegunungan dengan elevasi sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Semakin tinggi suatu lokasi, suhu udara umumnya semakin rendah.
Selain itu, musim kemarau menghadirkan tutupan awan yang lebih sedikit. Kondisi tersebut mempercepat pelepasan panas dari permukaan tanah pada malam hari.
Langit Cerah Mempercepat Pendinginan
Awan dapat menahan sebagian panas yang dilepaskan permukaan Bumi. Namun, langit cerah membuat panas lebih mudah terlepas menuju atmosfer atas.
Akibatnya, tanah, rumput, dan tanaman kehilangan panas dengan cepat. Proses ini dikenal sebagai pendinginan radiasi.
Saat suhu permukaan menyentuh titik beku, air yang menempel pada daun berubah menjadi kristal es. Lapisan tersebut kemudian terlihat seperti taburan gula atau salju tipis.
BMKG menjelaskan bahwa berkurangnya awan dan hujan membuat energi radiasi malam hari tidak tersimpan dengan baik di atmosfer. Karena itu, udara dekat permukaan terasa lebih dingin dari malam hingga pagi.
Pengaruh Angin dari Australia
Massa udara dari Australia juga memengaruhi suhu dingin di Indonesia bagian selatan. Pada Juli, Australia sedang mengalami musim dingin.
Tekanan udara yang lebih tinggi di Australia mendorong pergerakan massa udara menuju Indonesia. Angin tersebut bergerak melewati Samudra Hindia yang memiliki suhu permukaan relatif dingin.
Aliran udara itu membuat sejumlah wilayah di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara terasa lebih sejuk. Dampaknya semakin kuat di daerah pegunungan seperti Dieng.
Namun, suhu dingin pada Juli tidak muncul karena fenomena aphelion atau posisi Bumi terjauh dari Matahari. BMKG menegaskan bahwa aphelion tidak memberikan pengaruh besar terhadap cuaca permukaan Indonesia.
Fenomena Bediding
Masyarakat Jawa mengenal periode dingin pada musim kemarau sebagai bediding. Suhu terasa sangat dingin pada malam sampai pagi, tetapi udara kembali panas pada siang hari.
Perbedaan suhu yang mencolok tersebut terjadi karena udara musim kemarau cenderung kering. Tanah cepat kehilangan panas pada malam hari, tetapi kembali menerima pemanasan kuat saat siang.
Bediding biasanya terasa pada puncak musim kemarau, terutama Juli hingga September. Kondisi tersebut juga meningkatkan peluang munculnya embun upas di dataran tinggi.
Lokasi Melihat Embun Upas di Dieng
Kawasan sekitar Kompleks Candi Arjuna menjadi salah satu lokasi populer untuk melihat embun beku. Area terbuka dan hamparan rumput membuat kristal es mudah terlihat.
Wisatawan juga sering mencarinya di sekitar Dieng Kulon dan lahan pertanian yang berada dekat kawasan wisata. Namun, mereka harus menghormati batas lahan milik warga.
Beberapa lokasi yang berpotensi memperlihatkan embun upas antara lain:
- lapangan dan rerumputan sekitar Candi Arjuna;
- kawasan Dieng Kulon di Banjarnegara;
- area terbuka dengan cekungan dangkal;
- lahan pertanian pada titik yang sangat dingin;
- permukaan kendaraan atau atap bangunan;
- rumput di sekitar penginapan dan kawasan wisata.
Embun beku tidak muncul merata pada seluruh wilayah. Topografi, kelembapan, kecepatan angin, tutupan awan, dan suhu permukaan menentukan lokasi pembentukannya.
Oleh sebab itu, wisatawan tidak selalu menemukan lapisan es meskipun datang pada musim kemarau. Fenomena alam ini tetap bergantung pada kondisi cuaca harian.
Waktu Terbaik Berburu Embun Upas
Peluang terbaik biasanya muncul pada puncak musim kemarau. Periode Juli hingga Agustus sering menghadirkan suhu malam yang lebih rendah.
Meski demikian, embun es dapat muncul sejak Juni dan berlangsung hingga sekitar Oktober. BMKG mencatat periode kemunculannya memang terbatas pada musim kemarau.
Wisatawan dapat mengamati beberapa tanda sejak malam hari. Langit yang cerah, angin lemah, dan suhu yang terus menurun meningkatkan peluang terbentuknya es.
Waktu terbaik untuk tiba di lokasi ialah sebelum pukul 05.00 WIB. Kristal es biasanya mulai mencair setelah terkena sinar matahari.
Kondisi yang Mendukung Kemunculannya
Peluang embun upas meningkat ketika beberapa kondisi berikut terjadi:
- langit cerah dan minim awan;
- tidak turun hujan pada malam hari;
- angin bertiup lemah;
- kelembapan dekat permukaan cukup tinggi;
- suhu malam turun secara konsisten;
- permukaan rumput kehilangan panas dengan cepat.
Namun, wisatawan tetap harus memeriksa informasi resmi. Perubahan cuaca dapat terjadi dan membuat perkiraan sederhana meleset.
Dampak Embun Upas bagi Petani Dieng
Keindahan embun beku tidak selalu membawa kabar baik. Petani kentang justru menghadapi risiko kerugian ketika kristal es menutupi tanaman terlalu lama.
Lapisan es dapat merusak jaringan daun dan batang. Setelah matahari muncul, tanaman yang terdampak sering berubah warna, layu, lalu mengering.
Tanaman muda menghadapi risiko yang lebih tinggi karena jaringannya masih rentan. Selain kentang, sayuran dan tanaman hortikultura lain juga dapat mengalami kerusakan.
BMKG menyebut fenomena frost dapat membuat tanaman layu, mati, dan mengering. Dampaknya tidak hanya menyentuh produksi pertanian, tetapi juga kesejahteraan masyarakat setempat.
Kerugian petani bergantung pada ketebalan es, luas lahan yang terdampak, serta umur tanaman. Jika embun beku muncul berulang, biaya perawatan dan risiko gagal panen ikut meningkat.
Karena itu, petani perlu mencermati prakiraan suhu minimum. Informasi yang tepat memberi mereka waktu untuk menyiapkan langkah perlindungan.
Mengapa Daun Bisa Rusak?
Air di dalam jaringan tanaman dapat membeku ketika suhu turun ekstrem. Kristal es kemudian merusak sel dan menghambat fungsi jaringan.
Setelah suhu kembali naik, bagian tanaman kehilangan kemampuan untuk mengatur air. Daun akhirnya tampak layu atau seperti terbakar.
Kerusakan tidak selalu terlihat saat es masih menempel. Gejala sering muncul beberapa jam setelah matahari menyinari tanaman.
Embun Upas Menjadi Magnet Wisata
Di sisi lain, embun upas di Dieng memberikan peluang bagi sektor pariwisata. Banyak wisatawan datang untuk memotret lanskap putih yang hanya muncul dalam waktu terbatas.
Fenomena tersebut menciptakan pengalaman unik. Pengunjung dapat merasakan suhu ekstrem sekaligus menikmati pemandangan pegunungan Dieng.
Lonjakan wisatawan juga menggerakkan usaha penginapan, kuliner, transportasi, pemandu lokal, dan penyewaan perlengkapan. Karena itu, embun beku memiliki nilai ekonomi yang cukup besar.
BMKG menilai fenomena frost dapat menjadi potensi wisata unik jika pengelola mempromosikannya dengan baik. Namun, aspek keamanan dan keberlanjutan tetap harus menjadi perhatian utama.
Promosi juga perlu memakai narasi yang akurat. Pengelola sebaiknya menyebutnya embun beku atau frost, bukan salju Dieng.
Tips Aman Melihat Embun Upas di Dieng
Suhu dini hari di Dieng dapat terasa sangat menusuk. Karena itu, wisatawan harus menyiapkan pakaian yang tepat sebelum keluar dari penginapan.
Gunakan jaket tebal, penutup kepala, kaus kaki, dan sarung tangan. Selain itu, pilih sepatu dengan sol yang tidak licin.
Permukaan berembun dapat membuat jalur menjadi basah. Pada suhu sangat rendah, beberapa titik juga terasa licin karena lapisan es.
Berikut perlengkapan yang sebaiknya dibawa:
- jaket berlapis dan pakaian hangat;
- sarung tangan;
- penutup kepala atau kupluk;
- kaus kaki tebal;
- sepatu tertutup;
- minuman hangat;
- obat pribadi;
- senter untuk berjalan sebelum matahari terbit;
- pelindung kamera dari kelembapan;
- masker atau penutup wajah.
Wisatawan juga harus menjaga kondisi tubuh. Anak kecil, lansia, dan orang yang sensitif terhadap suhu dingin memerlukan perhatian lebih.
Jangan memaksakan diri jika tubuh terus menggigil, sulit bergerak, terasa kebas, atau mengalami pusing. Segera cari tempat hangat dan ganti pakaian apabila kondisinya basah.
Etika Berwisata Saat Embun Upas Muncul
Pengunjung perlu mengingat bahwa sebagian lokasi embun berada di lahan pertanian. Karena itu, jangan menginjak tanaman hanya demi mendapatkan foto.
Gunakan jalur yang tersedia dan ikuti arahan petugas. Selain itu, hindari memetik tanaman atau mengambil hasil pertanian milik warga.
Wisatawan juga tidak perlu mengeruk lapisan es secara berlebihan. Aktivitas tersebut dapat merusak rumput dan permukaan tanaman.
Sampah menjadi masalah lain yang perlu diperhatikan. Setiap pengunjung sebaiknya membawa kembali sampah pribadi dan menjaga kebersihan kawasan.
Dengan cara tersebut, wisata embun upas dapat memberi manfaat tanpa menambah beban lingkungan dan masyarakat lokal.
Apakah Embun Upas Berbahaya bagi Manusia?
Embun upas tidak bersifat racun bagi manusia. Istilah “upas” merujuk pada dampaknya yang dapat merusak atau mematikan tanaman.
Meski demikian, suhu dingin tetap dapat mengganggu kesehatan jika wisatawan tidak menyiapkan perlindungan. Paparan dalam waktu lama dapat memicu menggigil, kebas, serta penurunan suhu tubuh.
Risiko meningkat ketika pakaian basah atau wisatawan berada di area berangin. Oleh sebab itu, gunakan pakaian kering dan hindari terlalu lama berada di ruang terbuka.
Wisatawan dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi sebelum melakukan perjalanan. Mereka juga perlu membawa obat rutin serta mengetahui lokasi fasilitas kesehatan terdekat.
Embun Upas dan Perubahan Iklim
Kemunculan embun beku tidak otomatis membantah pemanasan global. Cuaca harian dan tren iklim jangka panjang merupakan dua hal berbeda.
Sebuah wilayah masih dapat mengalami pagi yang sangat dingin meskipun suhu rata-rata global meningkat. Variasi lokal tetap muncul karena ketinggian, pola angin, kelembapan, dan kondisi atmosfer.
BMKG menyebut fluktuasi kejadian frost di Dieng dapat dipengaruhi fenomena iklim global seperti El Niño dan La Niña. Selain itu, perubahan iklim juga menjadi bagian dari kajian ilmiah tentang pola embun beku.
Namun, ilmuwan membutuhkan data panjang untuk menilai perubahan frekuensi dan intensitasnya. Satu kejadian suhu ekstrem belum cukup untuk menyimpulkan sebuah tren.
Kesimpulan
Embun upas di Dieng kembali menghadirkan lanskap putih setelah suhu permukaan rumput turun hingga minus 6 derajat Celsius. Fenomena tersebut terbentuk saat embun membeku akibat suhu permukaan yang sangat rendah.
Langit cerah, udara kering, ketinggian wilayah, pendinginan radiasi, dan aliran udara dari Australia mendukung pembentukannya. Karena itu, embun upas paling sering muncul pada puncak musim kemarau.
Keindahannya memang mampu menarik wisatawan. Namun, lapisan es juga dapat merusak tanaman kentang dan menekan pendapatan petani.
